Oleh Pdt. Anselmus Puasa,M.Th.
”Kata-kata yang tulus (jujur) tidak berbunga-bunga;
kata-kata yang berbunga-bunga tidak tulus.” (Lao Tze)
Catatan Awal
Sejak dahulu, GMIH mengenal dan mempraktekkan beberapa jenis pertemuan gerejawi baik di tingkat sinodal maupun di jemaat. Ada persidangan dan ada rapat. Di tingkat sinode, ada persidangan sinode, dan ada rapat kerja tahunan, begitu juga di tingkat jemaat. Ada persidangan jemaat dan ada rapat sidi jemaat. Secara khusus, di tingkat jemaat menurut peraturan tentang jemaat, hanya dikenal dua bentuk persidangan, yaitu persidangan anggota sidi jemaat dan persidangan majelis jemaat. Sedangkan rapat, ada rapat majelis, atau rapat BPHJ.
Memasuki awal tahun kerja, di jemaat-jemaat diadakanlah Persidangan Gerejawi tingkat jemaat. Pelaksanaan persidangan di beberapa jemaat wilayah pelayanan GMIH, tidak berjalan dalam suasana senang dan tenang, tetapi justru berjalan dalam suasana penuh ketegangan. Suasana ketegangan ini memang sengaja diciptakan, agar persidangan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Sehingga persidangan jemaat tidak dapat menghasilkan sesuatu yang baik, berguna, dalam kerangka suksesnya program pelayanan.
Valentin Day
Hari Valentin dirayakan hampir di seluruh dunia, secara khusus di kalangan anak-anak muda. Tetapi itu bukan berarti, para orang tua dilarang merayakannya. Semangat dari perayaan Valentin adalah orang-orang diingatkan untuk saling berbagi kasih sayang satu dengan yang lain. Ketika dunia diliputi dengan semangat permusuhan, tindak kekerasan, perselisihan dan kebencian yang merusak dan menghancurkan relasi-relasi kekerabatan, persahabatan, persaudaraan dan kekeluargaan, maka di hari Valentin, hari Kasih Sayang semua orang diharuskan kembali ke fitrahnya sebagai manusia. Sebab dalam kesejatian kemanusiaan, predikat sebagai mahluk yang beradab dan berbudaya, mewujudkan solidaritasnya dengan sesama dalam kebersamaan dan keberagaman. Apatalagi bagi orang kristen, hidup dalam kasih dengan sesama adalah panggilan hidup yang secara terus menerus untuk diaplikasikan dan diimplementasikan dalam rasa, karsa dankarya.
Mungkin kita sering mendengar dan atau mungkin kita juga sering mengatakan bahwa ”Cinta itu Buta !” Anehnya, Cinta itu dapat membedakan mana sepeda butut dan mana sepeda motor, mana mobil-mobilan dan dan mana mobil benaran. Ungkapan bahwa ”Cinta Itu Buta !” Katanya, kalau orang lagi kasmaran, maka yang dominan menguasai dirinya adalah RASA yang emosional, sehingga ia kehilangan RASIO, sehingga ia tidak lagi berpikir dan bertindak logis (Yahya Wijaya, 2008:104). Apa benar begitu ? Tergantung perspektif dan pengalaman kita masing-masing. Akan tetapi menurut Paman John, Cinta atau Kasih sayang itu tidak buta. Yang buta adalah benci. Orang yang membenci saudaranya hidup di dalam kegelapan… dan kegelapan itu membutakan matanya. Sebaliknya, orang yangmencintai atau mengasihi saudaranya berada dalam terang. (1 Yohanes 2:7-17). Terang itulah yang membuka mata hati kita untuk bisa mengenal, memahami dan mengasihi saudara-saudara kita yang ada dalam persidangan dan bukan membencinya.
Di hari Kasih Sayang (Valentin) jemaat Imanuel Gamsungi mengadakan hajatan gerejawi, yakni persidangan jemaat. Dipilihnya tanggal 14 Februari 2014 sebagai waktu untuk pelaksanaan persidangan, merupakan pilihan cerdas dan tepat. Kita dapat menduga, panitia dan majelis khususnya BPHJ tentu punya harapan besar, bahwa peserta persidangan yang merupakan utusan tiap lingkungan pelayanan dan para undangan yang datang bersidang, pasti dengan hati yang diliputi syukur dan kasih sayang satu dengan yang lain. Panitia dan BPHJ yang mendesain acara persidangan, tepat pada hari Valentin, tentu saja punya maksud dan niat baik serta tulus, agar persidangan gerejawi ini berjalan sesuai dengan kehendak Sang Kepala Gereja yang terkenal dengan perintah KASIH kepada TUHAN dan KASIH kepada SESAMA. Panggilan untuk mengasihi, tidak hanya ada pada hari Valentin yang dirayakan setiap tanggal 14 Februari saja, akan tetapi disepanjang tahun, sebanyak 365 hari merupakan hari Valentin bagi orang kristen.
Sayang sekali, rencana dan rancangan dan sekaligus tindakan antisipasi demi dan untuk suksesnya pelaksanaan persidangan yang telah dibuat sedemikian rupa oleh panitia dan BPHJ, ternyata meleset. Sebab rencana dan rancangan baik yang telah diimpikan itu semuanya buyar oleh rencana dan rancangan ’jahat’ segelintir orang yang membuat gaduh dan runyam persidangan jemaat tersebut. Suasana gaduh yang penuh Kekacauan itu terjadi sejak pembukaan persidangan. Ketika Bupati Halmahera Utara tampil memberi sambutan, keluarlah para aktor dan aktris dari tempat duduk, dan mereka pun mulai memainkan sandiwara mereka. Para aktor dan aktris ini tampil dengan raut muka sangar, dan dengan mulut yang berbusa, keluarlah teriakan-teriakan histeris dan hujatan. Sekali lagi, tidak hanya teriakan tapi juga dengan aksi panggung yang sangat luar biasa, yakni berjalan ke depan seolah-olah mau merampas (mengambil paksa) Mic yang sementara dipegang oleh Bupati. Sehingga terjadilah suasana saling dorong, saling tuding, saling tunjuk dan saling silang pendapat, di antara sesama peserta persidangan.
Meskipun begitu, suasana panggung masih dapat dikendalikan, sehingga Bupati Halmahera Utara tetap memberikan sambutan pada persidangan jemaat tersebut. Salah satu entri point yang disampaikan oleh Bupati adalah ”Bersidanglah dengan penuh Kasih sayang satu dengan yang lain.” Pernyataan ini penting, sebab yang menghadiri sidang adalah persekutuan yang bernama gereja, bukan rapat partai politik, bukan juga persidangan anggota dewan. Gereja yang bersidang adalah sesama saudara, sesama keluarga Allah, dan sesama anggota dari Tubuh Kristus. Dan prinsip hidup dari semua anggota Tubuh Kristus adalah CINTA KASIH atau KASIH SAYANG, bukan KEBENCIAN.
Hal yang sama juga disentil oeh Wakil Ketua BPHJ, Pnt. Yoas Tonoro, mengingatkan semua peserta persidangan agar ada “kerendahan hat” sebab persidangan ini dibuka dengan doa, dibuka dengan ibadah. Pemazmur menegaskan bahwa “Tuhan mengajarkan jalan-Nya kepada orang yang rendah hati (Mzm.25:9) dan Tuhan memahkotai orang rendah hati dengan keselamatan” (Maz.149:4). Ternyata bagi sebagian perserta persidangan, ibadah yang dilakukan itu tidak lagi masuk di hati, karena hati telah keras, hati telah membatu, hati telah kehilangan kasih sayang, sebab tidak ada lagi kerendahan hati. Sehingga yang ada hanyalah amarah, kebencian dan dendam yang membara, yang siap menghancurkan dan menghanguskan siapa saja.
“Layakkah engkau marah ?” Demikian firman Tuhan kepada Yunus. Pertanyaan ini penting bagi seluruh warga GMIH dalam menyikapi kondisi dan suasana yang menimpa kita semua. Sebab di jemaat-jemaat, antara sesama warga GMIH, antara sesama pelayan gereja, yang menonjol adalah kemarahan bukan keramahan. Padahal amarah dan kemarahan tidak akan menyelesaikan persoalan, tetapi justru semakin meperkeruh dan semakin menambah masalah. Apalagi marah dan kemarahan itu dipertontonkan justru bukan dirumah tempat tinggal, bukan di rumah penginapan tetapi di dalam gereja yang adalah rumah Tuhan. Rumah Tuhan, tempat orang beribadah memuji dan mensyukuri segala kebaikan dan kemurahan Tuhan. “Layakkah engkau marah ?” Tanya Tuhan kepada kita semua. Lantas apa jawaban yang pantas kita berikan kepada-Nya ?
The Big Bos
Suasana panas penuh ketegangan yang terjadi di dalam gereja Rehobot Imanuel, tidak jauh berbeda dengan suasan yang terjadi di luar gereja. Memang sebelum persidangan di mulai, sepertinya ada tamu-tamu yang tidak diundang yang sedang berkeliaran di luar gerejawi. Tamu-tamu yang tidak diundang ini, datang dengan satu niat, yakni mau memberi ’suport’ kepada para pendukung yang pro ’status quo’ dan sekaligus memberi ’presure’ dan semacam intimidasi kepada kelompok yang pro pembaharuan. Semua orang yang berakal sehat, pasti sepakat bahwa para tamu tak diundang ini, yang berperilaku bak preman jalanan, datang ke tempat persidangan bukan dengan niat tulus, lurus dan jujur, tetapi sebaliknya, mereka datang dengan niat bulus dan busuk, untukmengacaukan jalannya persidangan. Ternyata tujuan itu, untuk sementara dapat dikatakan ”berhasil.” Sebab memang persidangan jemaat bukan lagi ”worship of Mind” (ibadah pemikiran) sebagaimana kata Pdt. James Haire. Tetapi telah menjadi ajang perseteruan.
Pikir-pikir, kenapa segelintir peserta persidangan ini menjadi histeris seperti orang sedang keserupan, ? Ternyata kemarahan mereka dikarenakan ”The Big Bos” yang mereka puja tidak dijadwalkan atautidak diberi kesempatan untuk manggung pada hari yang penuh bersejarah itu. ”The Big Bos” hasil persidangan Sinode Dorume, menghadiri persidangan jemaat dalam status bukan sebagai ”The Big Bos” tetapi dalam kapasitas sebagai salah seorang utusan jemaat, dalam hal ini sebagai utusan lingkungan pelayanan . Menghadapi kenyataan ini, membuat amarah para pendukungnya yang sudah tersulut emosi sebelum persidangan dimulai, tidak dapat dibendung lagi. Mengapa tidak ? Di beberapa persidangan jemaat yang dilaksanakan di jemaat-jemaat yang berada di kota Tobelo ”The Big Bos” tampil di panggung dengan pakaian kebesarannya, dan dengan penuh percaya diri memberi sambutan pada persidangan-persidangan jemaat yang sempat mengundangnya dan sekaligus membuka acara persidangan tersebut . Namun hal itu tidak terjadi di rumahnya sendiri atau di jemaat dimana ”The Big Bos menjadi salah satu anggotanya. Tentu saja, peristiwa ini dianggap sebagai suatu pukulan yang sangat memalukan bagi ”The Big Bos” dan seluruh pendukungnya.
Anehnya para pesuruh dan perusuh yang tentunya disuruh-suruh untuk membuat kekacauan dalam persidangan itu, justru semuanya berbicara tentang KEJUJURAN. Pertanyannya, Ada apa dengan kejujuran, sehingga semua orang, secara khusus para pengarang dan perancang kekacauan justru bicara dan bahkan meminta agar persidangan itu, semua orang harus bicara KEJUJURAN ? Hal itu sudah terasa sejak hari pertama sampai pada hari kedua pelaksanaan persidangan, para pendukung ”Status Quo” dengan penuh keyakinan dan percaya diri, berkoar-koar tentang KEJUJURAN.
Refleksi Tentang Kejujuran
Orang bijak bilang KEJUJURAN itu bukan diwacanakan, dibicarakan, didiskusikan, dan apalagi didebat dengan teriakan-teriakan. Kejujuran juga tidak dapat diminta-minta, atau dipaksa-paksa. Kejujuran yang dipaksakan dan karena terpaksa hanya akan membuat semua orang tertawa padahal tidak ada adegan lucu tapi yang ada hanyalah sandiwara yang penuh dengan kepalsuan. Benar tidak pernyataan seperti itu, yang pasti persidangan jemaat itu telah memberi kesaksian kepada semua peserta, tentang siapa yang datang dengan hati tulus dan siapa-siapa saja datang dengan niat busuk dan bulus. Baik yang tulus dan yang bulus, sama-sama punya keyakinan bahwa Tuhan tahu kedalaman hati dan pikiran kita. Oleh karena itu, apa pun sandiwara yang kita rancang dan yang kita mainkan, semua itu tidak luput dari mata sang Creator Kehidupan yakni Allah dalam Yesus Kristus. Dialah yang menilai, siapa saja para sutradara, para aktor dan aktris yang benar-benar dan sungguh-sungguh berakting sesuai dengan norma yang telah difirmankan-Nya.
Hancurnya gereja (baca:GMIH) karena para pekerja, khususnya para ”elite gereja” (baca: pemimpin gereja) hanya berwacana tentang kejujuran, tetapi tidak pernah mempraktekkannya sehingga yang kita tuai adalah bencana. Sebab memang demikian, bahwa seorang pemimpin tidak diminta untuk beretorika dan berteori tentang kejujuran, tetapi hendaklah ia adalah seorang pribadi yang jujur. Dengan demikian, kejujuran itu akan terlihat dalam sikap dan perilakunya dan nampak dalam setiap pengambilan keputusan pertanggungjawaban tugasnya (STTJ,2003:76). Salah satu ciri seorang pemimpin yang sombong adalah bicaranya banyak, kerja sedikit. Pemimpin seperti itu hanyalah pemimpi sejati yang menerapkan teori NATO (No Action Talk Only),NAPO (No Action Plan Only), NADO (No Action, Dream Only), demikian kata Xavier Pranata. Sedangkan orang yang jujur, bekerja tanpa bicara, sebab ia rendah hati. Dan orang-orang yang suka bicara tentang kejujuran adalah orang-orang yang memiliki kebiasaan berdalih, begitulah kata-kata orang bijak.
Kegagalan seorang pemimpin gereja karena hanya senang berwacana, tanpa terlaksana, juga senang bertindak dan berperilaku sama dengan penguasa yang suka memerintah. Senang bermain kuasa yang bertindak semena-mena. Jangan-jangan, para penguasa dunia sekarang melayani dengan kasih, ketimbang para pemimpin gereja. Ambil contoh di dunia bisnis yang katanya dunia ”ruci-rucian” (bermain curang), sehingga dipersepsikan bahwa bisnis itu kotor, tetapi faktanya sekarang justru mengadopsi pola kepemimpinan yang biblikal atau alkitabiah, sementara pemimpin gereja justru mengaborsi kepemimpinan yang alkitabiah (Sendjaya,2012:06).
Seorang pemimpin gereja yang diberi tanggungjawab besar dalam memimpin umat baik di tingkat jemaat, maupun di tingkat sinode, harus ingat bahwa semakin besar tugas dan tanggungjawab, maka semakin besar pula akuntabilitas yang ia miliki, bukan saja dihadapan umat tetapi justru terlebih dihadapan Tuhan. Sebagaimana menurut Sen Sendjaya, akuntabilitas pribadi seorang pemimpin umat harus termanifestasi dalam akuntabilitas institusional yang transparan (Sendjaya, 2012:10). Seorang pemimpin di mana saja, termasuk di gereja, akan dihargai akan dihormati apabila ia selalu terbuka pada setiap gagasan-gagasan baru yang kreatif dan inovatif demi pertumbubuhan dan perkembangan gereja; selain itu seorang pemimpin juga ditutntut untuk peka terhadap harga diri dari para pengikutnya, sehingga segala tindakan, putusan atau kebijakan yang dibuatnya adalah benar-benar sangat bijaksana.
Berbicara perihal dunia bisnis, modal kepercayaan (trust) sangat memainkan peran yang vital. Apalagi gereja, kejujuran merupakan nafas pelayanan. Pelayan yang kehilangan sikap dan perilaku jujur, akan kehilangan kepercayaan dari Tuhan dan umat-Nya. Artinya para pelayan Tuhan baik secara pribadi maupun kehadirannya secara institusional mesti dijamin ada kepercayaan. Rasa kepercayaan itu mesti dijaga,sehingga wibawa pelayanannya tetap dihormati. Seorang pemimpin gereja, yang gagal menjaga kejujuran sikap dan perilakunya, akan menerima hujatan, cercaan dan cacian dari warganya sendiri. Atau dengan kata lain, seorang pemimpin gereja yang suka berbohong dengan menyembunyikan seluruh perilaku buruk dan busuk, cepat atau lambat akan tercium dan terbongkar juga. Pada saat ketahuan, maka segala wibawa, dan nama baik akan hilang. Kehilangan kejujuran sama saja dengan ketiadaan moralitas. Sebab kejujuran merupakan norma yang sangat penting dalam moral kepemimpinan (STTJ,2003:77).
Gereja tidak bicara KEJUJURAN. Sebab salah satu sikap hidup orang-orang gereja adalah KEJUJURAN. Itu artinya,kejujuran hanya dapat dibuktikan atau ditunjukanlewat sikap dan perilaku sehari-hari. Rupanya akuntabilitas yang transparan telah hilang dari peredaran para pemimpin GMIH dan juga hilang dari institusi GMIH, sehingga perpecahan tidak dapat dihindari. Menarik, dalam persidangan itu, si jujur bicara soal kejujuran. Pertanyaannya, Kejujuran yang mana ? Kejujuran untuk apa ? Dan, Kejujuran menurut siapa ? Henri Nouwen (Nouwen,1993) memberi tanda awas kepada setiap pemimpin kristen, apalagi pemimpin gereja, yaitu godaan ingin populer, godaan ingin dipuji, godaan ingin dimuliakan, godaan ingin dihormati. Jika godaan itu telah menghinggapi dan meracuni hati dan pikiran sang pemimpin, maka jangan harap akan ada Kejujuran. Tetapi yang ada hanyalah hati dan pikiran serta mulut yang suka berdalih dan suka mengalihkan pokok persoalan yang sebenarnya kepada persoalan-persoalan yang tidak penting.
Catatan Akhir
Sebagai catatan akhir, pada persidangan jemaat itu, sempat juga terdengar Si jujur membuat statement,bahwa kita tidak bisa mengabdi pada dua tuan. Memang benar, atas pernyataan ini semua orangakan sepakat dan sekaligus menerimanya, bahwa kita tidak dapat mengabdi pada tuan. Orang kristen diminta untuk kritis, agar kita tidak salah dalam mengabdi. Apalagi mengabdi pada tuan yang tidak jujur, tuan yang hanya mengejar MAMON. Pengikut yang mengabdi kepada pemimpin yang mencintai mamon, hanya akan menjerumuskan kita kepada jurang kebinasaan. Sebab pemimpin yang mencintai mamon, hanya memikirkan diri sendiri. Kalau situasi genting, maka ia akan menyelamatkan dirinya sendiri, sehingga para pengikutnya akan lari terbirit-birit. Pemimpin yang mencintai Mamon, ia akan kehilangan pengaruhnya. Ia akan dilecehkan, ia tidak akan dihormati, mesti di jemaatnya sendiri.
Rupanya godaan terberat dan terbesar bagi setiap pemimpin gereja dan bahkan gereja secara institusi adalah soal Mamon, sebagaimana yang dialami oleh gereja perdana. Kita pasti ingat, kisah tentang suami –istri yang bernama Ananias dan Safira (Kis.5). Kedua suami-istri ini berprilaku tidak jujur, mereka mencoba menipu Petrus. Bagi Petrus tindakan penipuan itu, bukan ditunjukan kepadanya, melainkan suatu sikap dan perilaku yang mendustai Roh Kudus atau suatu tindakan yang mencobai Roh Tuhan. akibatnya adalah kematian. Jadi, sikap dan perilaku yang merusak persekutuan hidup menggereja adalah KETIDAKJUJURAN dalam soal KEUANGAN. Ternyata dosa ini ”diwariskan” dan atau terbawa-bawa sampai kini. Pilihannya ada pada kita sendiri, jujur (iklas) atau cukur (libas). Silahkan memilih, tapi ingat, salah memilih akibatnya fatal, bukan dibina, tapi dibinasakan yaitu kematian. Karena itu, jadilah BIJAK.