Bercakap dengan Ketua Bidang Kaum Bapak GMIH terpilih perode 2022-2027 adalah berhadapan dengan semangat dan optimisme yang besar. Ditemui di ruang kerjanya di Kantor Sinode GMIH WKO, pendeta muda asal Pulau Obi ini bercerita tentang tanggung jawab besar yang diemban sebagai ketua terpilih dalam rentang lima tahun ke depan ini.
Ia bercerita tentang berbagai pembenahan yang sementara ini dilakukan di tingkat organisasi. “Sementara ini kita memanfaatkan media komunikasi whatsapp untuk menciptakan transparansi keuangan. Dan itu sangat berhasil. Evaluasi di Rakerta Obi, dalam satu tahun iuran yang masuk delapan belas juta rupiah. Tetapi sejak melakukan transparansi lewat media Grup Koordinasi Kaum Bapak GMIH, dalam dua bulan iuran yang masuk mencapai dua puluh sembilan juta rupiah. Transparansi sangat berdampak menciptakan peningkatan keuangan”, ia mengisahkan.
Selain itu, lewat media tersebut pengurus Kaum Bapak GMIH berupaya mengadakan pembenahan data di tingkat jemaat. “Kita memotivasi pengurus di tingkat jemaat untuk membenahi data di masing-masing jemaat. Dan terus mengingatkan, apa yang kita kelola adalah persembahan dari warga jemaat dengan aneka profesi. Ada petani, ada buruh tani, ada penebang kayu, ada penyapu jalan, buruh, ada tukang, nelayan, tukang ojek, tukang bentor, sopir yang mempersembahakan yang terbaik untuk Tuhan. Jika disalahgunakan ini akan menjadi kutuk. Untuk kita pertama-tama kita jujur di hadirat Tuhan dan jujur pada diri dalam pengelolaan. Milik kita adalah milik kita, dan yang bukan milik kita adalah bukan milik kita. Apa yang jadi milik jemaat adalah milik jemaat. Milik sinode adalah milik sinode. Peningkatan keuangan ini adalah bukti bahwa berkat datang dari kejujuran.”
Pengalaman pembenahan selama dua bulan terakhir rupanya memicu optimisme yang besar di kalangan pengurus kaum bapak. Selain menyediakan sarana kerja untuk melengkapi kantor tempat kaum bapak beraktifitas, bahkan menyumbang satu unit printer untuk bidang lain, pengurus Kaum Bapak juga berencana memiliki satu unit mobil tahun depan. “Kita harus punya mimpi. Dengan kejujuran dan kerja keras ini bisa diwujudkan”, beliau menegaskan.
Untuk mimpi-mimpi besar itu bidang Kaum Bapak GMIH berencana menjalin kerja sama dengan pengusaha khususnya penyedia bahan bangunan. Sehingga setiap jemaat dan warga jemaat yang membutuhkan bahan bangunan akan direkomendasikan untuk ke toko pengusaha tersebut. Dari situ Kaum Bapak akan mendapatkan sedikit insentif.
Selain itu Kaum Bapak berencana membuka kios sembako di kawasan kantor sinode untuk melayani pekerja kantor sinode. “Kami akan melobi ke BPHS untuk dapat menggunakan salah satu ruang di kawasan kantor ini. Jika bisa, setiap pekerja kantor dapat melakukan pengambilan sembako di kios ini”. Demikian beliau memaparkan rencananya.
Akhirnya, beliau menutup wawancara dengan pesan tentang banyaknya tanggung jawab di depan. “Kita harus terus bergerak. Jangan hanya diam di tempat”. (edw)