(Materi Pembinaan Majelis Jemaat)
Pdt. L Boediman,S.Si.M.Th
==========================
- Arti dan Makna Spiritualitas
Kata Spiritualitas tidak asing lagi bagi kita, sudah sering didengar, bahkan digunakan. Secara etimologis, kata spiritualitas berasal dari kata Latin spiritus yang berarti roh, jiwa, atau semangat. Kata ini memiliki kesamaannya dengan kata Ibrani Ruach atau Pneuma dalam bahasa Yunani yang berarti angin atau napas, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai semangat yang menggerakkan.
Menurut Simon Chan, aspek Spiritualitas sebagai sesuatu hal yang berhubungan langsung dengan masalah realitas kehidupan, dan karena itu berbeda dengan teologi spiritual, yang lebih berhubungan dengan refleksi sistematis. Bahwa teologi spiritual dapat diperluas tetapi juga dapat dipersempit maknanya.
Selanjutnya Simon Chan menjelaskan, bahwa Spiritualitas tumbuh dan berkembang di atas dasar 2 komponen utama yaitu Roh dan Firman. Di mana komponen ‘Roh” berhubungan dengan suatu realitas yang tidak rasional, dan karena itu diungkapkan dalam arti transendensi yang suci atau nyata. Sedangkan “Firman” berhubungan dengan konsepsi yang rasional, yang berkaitan dengan pengalaman yang nyata dalam formulasi ajaran teologi dan dogma.
Karena itu dalam perkembangannya, kata Spiritualitas kemudian dipahami secara beragam. Ada yang memahami bahwa spiritualitas bukanlah perilaku yang lahiriah yang hanya dapat dilihat, tetapi juga pada apa yang tidak dapat dilihat. Spiritualitas adalah getaran hati yang bersifat religious atau cita rasa religious. Tanpa spiritualitas, hidup keberagaman seseorang hanya terikat pada hal-hal yang lahiriah saja. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Spiritualitas adalah getaran hati tentang yang ilahi, yang terdapat dalam sanubari seseorang.
Menurut Eka Darmaputera, Spiritualitas adalah saripati religiuis yang seringkali tersembunyi di balik ajaran dan aturan-aturan formal agama, bahwa pada hakekatnya, spiritualitas adalah “jiwa”, “roh”, sumber dinamika dari suatu agama. Maka spiritualitas adalah kebutuhan bawaan manusia untuk berhubungan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri manusia itu. Istilah “sesuatu yang lebih besar dari manusia” adalah sesuatu yang di luar diri manusia dan menarik perasaan akan diri orang tersebut.
Dengan demikian dapat dikatakan Spiritualitas Pelayan adalah Pengalaman hidup seseorang secara Individual yang terhubung dengan Kristus yang dinyatakan melalui emosi, perilaku dan sikap hidup. Jadi Spiritualitas bukan sekedar kesalehan hidup atau hidup rohani sesorang,tetapi seluruh totalitas hidup yang menyangkut aspek rohani dan jasmani.
- Spiritualitas Yesus
Spiritualitas Yesus terbentuk sejak Ia masih kecil hingga dewasa. Spiritualitas yang terbentuk melalui didikan orang tua. pergaulan bersama orang lain, pengenalan ajaran agama yang diterima-Nya. Semua itu menjadi dasar yang kokoh bagi-Nya dalam menjalani kehidupan dan panggilan-Nya.
Nolan mengatakan:
Kita harus mencermati apa yang Yesus lakukan, apa yang Yesus katakan, dan apa yang Yesus ajarkan untuk dapat mengenali spiritualitas yang bekerja di balik karya-karya dan pengajaran-pengajaran-Nya. Apakah rahasia hidup dan kematian-Nya yang luar biasa itu? Apa yang paling Ia rasakan secara mendalam? Apa yang paling berkesan tentang Dia? Apa yang membuat-Nya bbegitu dicintai dan dikagumi oleh banyak orang dan dibenci juga oleh banyak oarng lain?
Berdasarkan apa yang dikemukakan oleh Nolan, kita dapat melihat pada apa yang Yesus Lakukan dan ajarkan. Ajaran Yesus mengenai Orang Samaria yang murah hati memperlihatkan bagaimana Spiritualitas-Nya Bahwa pengenalan dan ketaatan kepada Allah tidaklah harus mengabaikan Kasih kepada Sesama manusia. Dari sinilah kita menemukan bagaimana Yesus tidak membedakan pelayanan kepada Allah jauh lebih penting daripada pelayanan kepada manusia. Bahkan apa artinya mengasihi Allah sedangkan sesama saudara kita membenci. Melalui Kisah Orang Samaria yang murah hati, kita juga menemukan spiritualitas Yesus yang tidak membedakan orang, atau tidak meremehkan orang lain yang “dianggap” berbeda. Bahkan ketaatan pada hukum Taurat tidaklah harus mengabaikan dan melalaikan aspek kemanusiaannya.
Selanjutnya kita dapat menelusuri pada apa yang dilakukan Yesus, di mana melalui bagian dibawah ini saya hendak menunjukkan aspek lain dari spiritualitas Yesus dengan berdasarkan pada teks Markus 1:21-45. Bagian pembacaaan ini, terbagai atas beberapa perikop sebagai berikut:
- Ayat 21 – 28 tentang Yesus dalam rumah ibadat di Kapernaum
| “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi keluar, Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.” |
Ayat 29 – 34 tentang Yesus menyembuhkan ibu mertua Petrus dan orang- orang lain
- Ayat 35 – 39 tentang Yesus mengajar di kota-kota lain
- Ayat 40 – 45 tentang Yesus menyembuhkan seorang yang sakit kusta
Pembagian perikop di atas, kalau diperhatikan dengan baik, merupakan rangkaian pekerjaan Yesus yang dilakukan-Nya sepanjang satu hari dan itu dimulai pada saat hari Sabat. Kalau kita memperhatikan penuturan penulis Injil Markus, kita akan menemukan satu hal penting yang hendak ditekankan oleh Penulis Injil Markus yang sebenarnya LAI mengabaikannya. Apa yang dilakukan Yesus sepanjang satu hari pelayanan-Nya sungguh amat melelahkan. Bahwa Dia bukan sekedar mengajar orang banyak, tetapi Dia juga melakukan penyembuhan bagi mereka yang datang memohon pertolongan-Nya. Dia bukan hanya mengajar dengan kata-kata, tetapi Yesus melakukan tindakan yang nyata yang menjadi kebutuhan mendasar mereka yang membutuhkan pertolongan-Nya.
Penulis Markus menjelaskan bahwa setelah Yesus menghardik orang yang kerasukan roh jahat di rumah Ibadah, Ia bersama para murid-Nya keluar melanjutkan pelayanan (ayat 2-28). Kemudian kepada-Nya diberitahukan bahwa ibu mertua Simon sedang sakit, dan karena itu ia pergi ke rumah Simon, dan memberikan penyembuhan kepada perempuan tersebut. Setelah itu menjelang malam, kepada Yesus dibawa semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan, dan Ia melayani mereka semua (ayat 29-34).
Selanjutnya pada ayat 35-39, disinilah letak kekuatan Yesus dalam melakukan seluruh karya dan panggilan pelayanan-Nya. Penulis Injil Markus mencatat dalam ayat 35:
Suatu sikap dan perbuatan yang amat jarang dilakukan oleh para pemimpin agama pada waktu itu. Apalagi di tengah kesibukan dan kepadatan pelayanan-Nya sepanjang satu hari penuh, tetapi Yesus masih punya waktu dan kesempatan untuk berdoa. Suatu penghayatan yang mendalam akan ketergantungan hidup dan karya-Nya kepada Allah Sang Khalik. Suatu spiritualitas yang mengakar dan kokoh yang dibangun pada dasar yang benar. Yesus sangat menyadari bahwa di balik semua tugas dan pelayanan yang dikerjakan-Nya, tidaklah dapat melupakan ketergantungan-Nya kepada Sang Khalik yang menjadi sumber kekuatan hidup manusia.
Pengalaman Spiritualitas Yesus merupakan pengalaman yang terbentuk atas dasar panggilan hidup-Nya, dan atas dasar penghayatan-Nya. Yesus sungguh menyadari bahwa semua tugas dan tanggungjawab yang diemban-Nya adalah panggilan hidup yang memberdayakan semua pihak, dan karena itu ketergantungan pada Allah haruslah menjadi dasar yang utama. Mengasihi Allah terimplikasi dalam pelayanan kepada sesama, tetapi juga tidak boleh mengabaikan hubungan pribadi dengan Allah sebagai sumber inspirasi hidup.
- Bagaimana Mengembangkan Spiritualitas Pribadi
- Menyediakan waktu khusus untuk berdoa
Sebagai Pelayan, kita selalu disibukkan dengan tugas-tugas pelayanan, dimana terkadang kesibukan tersebut melelahkan dan mungkin saja dapat membosankan kita. Semua energy kita curahkan untuk tugas mulia ini, sehingga kita sepertinya kehabisan tenaga. (bagaikan Hp yang kita pakai habis baterenya). Karena itu kita butuh menyediakan waktu khusus untuk dapat bersekutu secara pribadi dengan Dia yang memberi tugas. Kita perlu “mengecas” ulang untuk menambah energy dalam mengerjakan tugas pelayanan ini.
- Memiliki Kepekaan sosial
Hal ini penting agar kita dapat mengenali siapa umat yang kita layani. Kita perlu mengunjungi mereka di luar waktu-waktu ibadah, mendengar pengalaman- pengalaman hidup mereka, memahami persoalan yang dihadapi agar dengan demikian kita dapat membantu menolong mereka menghadapi tantangan dan persoalan kehidupan.
3. Memiliki Integritas sebagai keteladanan hidup
Sebagai seorang pelayan, kita harus memiliki integritas yang baik. Integritas dapat dimengerti secara sederhana yaitu adanya kesatuan antara yang diucapkan dengan yang dilakukan. Seorang pelayan yang tidak memiliki integritas yang baik, maka pelayanannya pasti akan mengalami kendala. Dengan memiliki Integritas yang baik dan kuat, maka kehidupan seorang pelayan akan menjadi teladan dalam persekutuan berjemaat dan bermasyarakat.