06 Juni 1949-06 Juni 2023
Pendahuluan
Perayaan ulang tahun, ternyata tidak hanya orang perorang, namun juga organisasi atau institusi yang secular maupun yang sacral, kerap merayakannya. GMIH sebagai suatu organisasi keagamaan (sacral), dapat merayakan ulang tahunnya yang ke 74 tahun. Juga bertepatan dengan ulang tahun GMIH, kantor sinode merayakan ulang tahun yang 1.
Perayaan ini diawali dengan kegiatan “Jalan Sehat” yang dilakukan pada hari Sabtu tanggal 3 Juni 2023. Selanjutnya, pada hari Senin (5 Juni 2023) dilangsungkannya kegiatan dalam bentuk lomba Pop Singer Anak, Remaja dan Dewasa, serta lomba musik Yangere, antar jemaat.
Puncak prayaannya adalah ibadah ucapan syukur, yang dilaksanakan pada tanggal 6 Juni 2023 yang merupakan tanggal kelahiran GMIH.
Adapun semua kegiatan perayaan ulang tahun GMIH itu, difokuskan di lapangan GMIH Sion WKO. Bagi jemaat-jemaat yang jauh dari kantor pusat layanan di Tobelo, mereka juga merayakan di jemaat masing-masing. Terpujilah Tuhan Yesus, Sang Kepala GMIH.
Syukur Pentakosta
Perdebatan di kalangan para teolog, apakah gereja ini sudah ada sejak dunia Perjanjilan Lama, ataukah nanti ada sejak peristiwa turunnya Roh Kudus ? Bila bertitik tolak dari pernyataan Tuhan Yesus kepada Simon Petrus: “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Matius 16:18).
Mendengar apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus kepada Petrus, dapat disimpulkan bahwa gereja atau jemaat bukan sudah ada sejak dunia Perjanjian Lama; yang namanya gereja atau jemaat itu baru didirikan oleh Yesus di jaman Perjanjian Baru. Mungkin di sini, kita harus membedakan sebutan tentang Israel sebagai Umat Tuhan. Israel sebagai umat Tuhan, memang berlaku dan berlangsung sejak pemanggilan dan penyampaian janji Tuhan Allah kepada Abraham. Tuhan berfirman, Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu. Sedangkan dari pihak Abraham dan keturunannya akan menjadi umat-Ku (Kej.17)
Kita tidak perlu memperpanjang perdebatan tersebut, tetapi yang pasti bahwa peristiwa pentakosta merupakan titik tolak bagi hadirnya gereja Tuhan di muka bumi ini. Dalam kesadaran itulah, pada syukur pentakosta tanggal 6 Juni 1949, orang-orang percaya yang ada di Halmahera, dalam persidangan sinode memproklamirkan hadirnya atau lahirnya Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH).
Berefleksi dari pertistiwa pentakosta, ada banyak mujizat yang terjadi. Salah satu mujizat itu adalah pentakosta telah mematahkan atau memutuskan kutuk pada peristiwa Babel, di mana Tuhan turun mengacaubalaukan bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing. (Kej.11:7) Pada peristiwa Pentakosta, orang-orang yang datang berkumpul dari pelbagai bangsa-bangsa di dunia waktu itu, akan tetapi mereka kemudian saling mengerti. “Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: kita orang Partia, Media, Elam, Mesopotamia, Yudea, Kapadokia, Pontus, Asia, Firgia, Pamfilia, Mesir, Libia, Roma, Kreta dan orang Arab. (Kisah 2:8-11)
Selain itu, peristiwa Pentakosta juga telah merobohkan ikatan primordialisme; dimana orang tidak lagi mempertahankan identitas kesukuan dan status sosial sebagai hak istimewa, tetapi orang rela bergabung atau bersekutu dengan orang lain yang berbeda suku dan status sosial dengan dirinya. Orang-orang yang datang dari penjuru dunia, orang-orang yang datang dari kampung boleh berkumpul bersama dan menciptakan suatu komunitas baru yang bernama jemaat/gereja Tuhan.
GMIH hadir pada persitiwa syukur Pentakosta, juga mengusung semangat yang sama dengan peristiwa Pentakosta dahulu. Mengapa ? Sebelum GMIH hadir, di bagian Halmahera Barat, sejak 1942 telah diproklamirkan satu gereja yang mandiri, yang bernama Gereja Protestan Halmahera (GPH). Akan tetapi. Kesadaran pentakosta telah meleburkan untuk kemudian sepakat menerima hadirnya GMIH. Secara arif untuk meredam perbedaan yang ada, lalu dikatakan bahwa GPH adalah nama potong pusa, sedangkan GMIH adalah nama baptis.
GMIH di Usia 74 Tahun
Tak terasa GMIH telah berumur 74 tahun. Usia ini bila diukur dengan usia manusia, sudah memasuki usia tua, karena itu sudah sangat matang. Usia matang, seharusnya menjadikan semua orang yang menjadi warga GMIH, mengambil dan memiliki sikap yang arif dan bijak. Terutama bagi kita yang berada dalam posisi sebagai pelayan Yesus Kristus, seyogianya mendesain seluruh program pelayanan dalam kehidupan di jemaat-jemaat dan bahkan pada aras sinode, dikerjakan juga secara matang dan tidak gegabah dan serampangan.
Namun, kita juga perlu hati-hati, sebab pada usia tua, tidak luput dari banyak kekurangan secara fisik. Kekuatan fisik telah berkurang, kesehatan berkurang, dan bahkan daya kerja dan pelayanan juga ikut berkurang. Dan yang lebih parah pada usia tua adalah orang kembali seperti anak-anak (istilah lokal adalah so la ef). Pada kondisi seperti itu, orang tua gampang merajuk, gampang marah, dan gampang sekali menunjukan sikap permusuhan, dengan orang-orang sekitarnya.
Sedikit berefleksi di usia yang ke 74 ini, potret jemaat-jemaat dan juga potret para pelayan Tuhan di GMIH, dapat dikatakan menggembirakan; artinya bila kita buat persentase, maka sebagian besar jemaat-jemaat dan para pelayan Tuhan, dapat dikategorikan sebagai jemaat yang dewasa dan para pelayan yang dewasa. Tetapi dengan mengatakan itu, kita tidak dapat menutupi bahwa masih ada sebagaian yang masih dapat dikategorikan sebagai yang belum dewasa.
Yesus Kristus adalah Kepala GMIH; itu berarti orang-orang percaya yang menjemaat disebut sebagai tubuh Kristus. Oleh karena jemaat adalah tubuh Kristus, maka kehidupan jemaat harus berorientasi dan meneladani Yesus Kristus. Yesus berkata bagi orang yang mengikut-Nya, harus memikul salib setiap hari. Dan kita tahu bahwa jalan salib adalah via dolorosa, bukan jalan yang mudah dan gampang. Jadi jemaat-jemaat atau orang yang bermental gampangan, dan kanak-kanak, harus merenung ulang dengan cara dan sikap hidup yang gampangan tersebut. Sikap gampangan adalah sikap yang tidak memiliki konsistensi dan integritas dalam hidup. Sikap gampangan adalah sikap yang ceroboh dan terutama dalam konteks tulisan ini adalah sikap gampang marah, gampang merajuk, dan gampang berkonflik dan gampang bermusuhan.
GMIH dalam perayaan di usia yang ke 74, mengusung tema “Menjadi Gereja yang Kuat dan Teguh Dalam Tuhan.” Tema ini relevan dengan keneradaan GMIH yang menggunakan lambang perahu yang tengah berlayar di tengah lautan. Tentu saja dalam pelayaran itu, GMIH akan diperhadapkan dengan kondisi cuaca yang ekstrim, yakni badai dan gelombang yang datang menghadang dan menghantam perahu GMIH. Kita patut bersyukur, meskipun ada begitu banyak persoalan dan tantangan, perahu GMIH tetap dikuatkan dan diteguhkan Tuhan dalam pelayaran panjang itu. Hingga kini GMIH boleh dan tetap berlayar selama 74 tahun ini.
Hafner, mengingatkan kita semua, bahwa belajar dari kehidupan gereja perdana/gereja mula-mula yang tidak memiliki asset berupa uang, gedung, juga tidak memiliki pengaruh dan kekuatan politik, tetapi mereka disukai oleh semua orang, sehingga tiap hari, Tuhan menambahkan jumlah mereka. Sementara gereja-gereja di jaman sekarang memiliki asset uang, gedung dan banyak hal lagi, tetapi sayangnya, di antara kita sesama warga gereja saja saling membenci satu dengan yang lain. Dengan kata lain kita tidak saling menyukai satu dengan yang lain. Bagaiamana mungkin Tuhan menambahkan jumlah kita.
Kritik Hafner ini perlu kita perhatikan sebagai warga GMIH sekarang ini. Bila kita ingin menjadi gereja yang disukai semua orang dan gereja yang diberkati oleh Tuhan, tidak ada kata lain, kita harus kembali pada jati diri sebagai gereja Tuhan. Gereja yang benar, sesuai dengan Kristus Yesus Kepala gereja inginkan.
Penutup
Perayaan hari ulang tahun ke 74 dari GMIH, juga bertepatan dengan perayaan 1 tahun diresmikannya Kantor Sinode. Bertitik tolak dari Tema perayaan,maka sudah seharusnya kita semua menjadi warg agereja dan pelayan Tuhan di gereja ini yang kuat dalam melayani, kuat dalam mengasihi, kuat dalam berbagi, kuat dalam melakukan kebaikan bagi sesama dan alam sekitar; kita juga harus menjadi warga gereja dan pelayan Tuhan yang tidak gampang digoyahkan dengan pelbagai ajaran dan rayuan dunia; tidak gampang digoyahkan dengan pelbagai berita dan cerita hoaks (bohong).
Mari kita menjadi gereja yang kuat dan teguh dalam Tuhan, sebab sebagai orang percaya, kita ini adalah garam dan terang. Bukan garam dan terang bagi gereja tetapi bagi dunia. Jika garam telah menjadi tawar, maka tidak ada cara lain, selain dibuang dang diinjak-injak orang. Kiranya garam tidak menjadi tawar dan terang tidak menjadi pudar. Dirgahayu ke 74 GMIH tercinta, Tuhan Yesus memberkati kita semua. God is good !!!