HIRONO AKESIBU

Pelaksanaan Hirono di jemaat Kiryakon Akesibu menjadi titik evaluasi bagi pengurus Kaum Bapak Tingkat Sinode GMIH. Kegiatan yang menghadirkan 453 peserta dari 67 jemaat itu dilihat sebagai sebuah sukses sekaligus tolak ukur bagi pelaksanaan-pelaksanaan Hirono ke depannya.

Ketua Bidang Kaum Bapak Sinode GMIH, Pdt. Gabriel Totononu, S.Th menilai antusiasme jemaat untuk pelaksanaan Hirono yang cukup tinggi sebagai sebuah tantangan ke depannya. “Kami mengevaluasi, kegiatan-kegiatan Hirono sebelumnya. Dan kami temukan bahwa kendala untuk pelaksanaan Hirono adalah soal informasi. Banyak kali jemaat tidak mengetahui informasi pelaksanaan Hirono karena surat pemberitahuan tidak sampai ke jemaat. Untuk itu kami memanfaatkan media komunikasi whatsapp untuk mengkoordinasikan kegiatan. Dan itu cukup berhasil. Jemaat-jemaat dari Ibu, Jailolo, Sahu, Loloda, Gane Timur dan Obi tidak mendapat surat pemberitahuan Tapi bisa hadir di Akesibu”. Ia berharap kagiatan Hirono sekaligus Rakerta yang akan dilaksanakan bulan Oktober di Buho-Buho nanti akan menuai antusiasme yang semakin besar.

HIRONO ADALAH CARA MENAMPILKAN EKSISTENSI KITA TANPA BERDEBAT.
Pdt. Dr. Ebin Danius

Tanggung jawab besar yang diemban Kaum bapak gereja bagi pelaksanaan Hirono menyimpan tantangan besar, mengingat banyaknya jemaat yang dalam proses membangun gedung gereja. Ada yang baru dalam tahap pembebasan lahan, ada yang membangun pondasi. Karenanya, Pdt. Totononu melihat perlunya menentukan syarat-syarat untuk jemaat yang akan menjadi prioritas pelaksanaan Hirono. “Banyak jemaat yang butuh Hirono. Semua butuh. Sehingga kemudian ada yang mengusulkan Hirono dilaksanakan lebih dari tiga kali dalam setahun. Tapi tentu saja akan berdampak pada pembiayaan karena titik-titik kebutuhannya menyebar, tidak hanya di wilayah tertentu. Karena itu perlu ditentukan jemaat-jemaat prioritas untuk kegiatan tingkat Sinodal, dan yang lainnya akan masuk dalam kegiatan Hirono tingkat regio. Dan itu akan coba dibahas di Buho-Buho nanti”, demikian ia menjelaskan. Pengurus juga berharap dapat mendukung kegiatan Hirono di tingkat regio. Dana alokasi jemaat untuk kegiatan Hirono nantinya akan dibagi dua. Sebagian untuk kegiatan Hirono tingkat sinode, setengahnya lagi untuk kegiatan Hirono tingkat regio. “Agar terjadi pemerataan. Jadi walau pun sedikit, tapi semua jemaat bisa merasakan partisipasi dari jemaat-jemaat secara sinodal. Agar tidak terjadi kecemburuan antar jemaat”. (edw)

Postingan Terbaru