KEPEMIMPINAN SAHABAT atau KEPEMIMPINAN HAMBA ?

Oleh: PDT. ANSELMUS PUASA

Pendahuluan

Saudaraku, rupanya Yesus dalam menjalankan dan melaksanakan misi-Nya itu, Yesus membutuhkan orang lain; maka Ia pun mulai mencari beberapa orang untuk dijadikan murid-Nya. Ketika bertemu dengan Simon Petrus dan Andreas,  Yesus pun berkata kepada mereka: ”Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” (Mat.4:19; Mrk.1:17;Mat.4:18; Luk.5:10) Lalu Yesus memanggil Yakobus dan Yohanes. Para nelayan ikan itu pun dipersiapkan untuk menjadi pelayan insan.

Masa-masa persiapan atau masa belajar yang harus ditempuh oleh para murid, kurang lebih tiga tahun setengah. Setelah masa-masa pembelajaran itu mencapai puncak, kini tiba saatnya para murid mendapat ujian (bukan Ujian Negara). Dan Sang Guru pun mengingatkan para murid-Nya: ”Malam ini kamu semua akan tergoncang iman karena Aku. Sebab ada tertulis: “Aku akan memukul gembala dan domba-domba itu akan tercerai berai….” (Mat.26:31;). AKan tetapi salah seorang murid dengan lantang menyanggah apa yang dikatakan oleh Sang Gurunya: ”Biar pun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.” (Mat.26:33). Itulah imana tau keyakinan sang murid yang bernama Simon Petrus.

Lalu apa tanggapan Sang Guru, terhadap murid-Nya yang terlihat sangat arogan tersebut? Kata Gurunya, ”Aku berkata kepadamu, sesunggunya malam ini (bukan besok malam, bukan satu minggu ke depan atau satu bulan ke depan atau satu tahun kemudian), sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.”(Mat.26:34). Tapi dengan lantang, Petrus pun berkoar, ”Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.”  

Apakah hanya Petrus sendiri yang berani menyatakan keyakinan seperti itu, di hadapan guru-nya ? Ternyata, semua murid yang lain pun berkata demikian juga. (Mat.26:35). Artinya, mereka semua, menyatakan komitmen atau janji yang sama, bahwa mereka berani menghadapi ujian tersebut. Sekalipun dengan resiko adalah taruhan nyawa, para murid bertekad dan nekad mati untuk berpihak kepada Sang Guru, yakni Yesus. Namun sangat disayangkan, para murid menghilang ketika ujian yang sesungguhnya itu benar-benar datang. Sebab ketika Yesus ditangkap, ”Semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri” (Matius 26:56b).

Pengkhianatan Simon Petrus

Kisah pengkhianatan Simon Petrus terhadap Yesus, ditulis oleh keempat injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes). Itu berarti peristiwa ini  atau lebih tepatnya kasus yang ada ini,  sangat penting untuk kita refleksikan sebagai gereja masa kini. Semua penginjil mengkisahkan bahwa, sebelum peristiwa pengkhianatan itu terjadi, Yesus sudah mengingatkan kepada Simon Petrus, bahwa ia akan menyangkal Yesus, gurunya. Yesus berkata kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” (Mat.26:34; Mrk 14:30; Luk 22:34; Yoh 13:38).

Meskipun Simon Petrus membantah apa yang dikatakan oleh Yesus, tetapi faktanya bahwa Simon Petrus, akhirnya mengkhianati Yesus dengan menyangkali sebanyak tiga (3) kali; dan hal itu terjadi sebelum ayam berkokok. Padahal, peringatan yang Yesus sampaikan kepada Simon Petrus itu, baru beberapa jam yang lalu. Begitulah naluri manusia dalam menghadapi bahaya yang mengancam keselamatan dirinya, ia akan fight, yakni berani bertarung menghadpi bahaya tersebut atau mengambil langkah seribu. Alias flying atau terbang melarikan diri. Tendensi seperi itu dapat dikatakan wajar, karena natur makhluk hidup adalah berjuang untuk bertahan hidup (survival).

Pertanyaannya, apakah peristiwa pengkhianatan yang dilakukan oleh Simon Petrus terhadap Yesus itu, benar-benar telah melukai hati Yesus ? Alkitab tidak memberi catatan akan hal itu. Akan tetapi, sebagai seorang Guru, kemungkinan saja  Yesus terluka karena pengkhianatan yang dilakukan bukan saja oleh Simon Petrus seorang diri, tetapi dilakukan oleh semua murid-Nya. Bila kita menyimak kisah pengkhianatan yang terjadi, justru yang terluka adalah si pengkhianat itu sendiri. Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: “Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya. (Mat.26:75)

Pemulihan Terhadap Petrus

Saat Yesus dibangkitan, Yesus berkenan menjumpai Simon Petrus. Padahal rasanya tidak mungkin lagi, kita mau menjumpai orang yang telah berkhianat kepada kita. Penyangkalan Simon Petrus sangat memalukan dan memilukan, namun Tuhan Yesus tidak membuang, atau mencampakan Simon. Mungkin saja Simon merasa malu, ragu atau takut datang kepada Tuhan Yesus, karena itu Yesus datang menjumpainya. Pendekatan yang Yesus lakukan ini, adalah melayani dengan memberi Simon Petrus dan teman-temannya makan terlelebih dahulu, baru sesudah itu, Yesus mengambil waktu sejenak bersama Simon Petrus.

Kisah ini, diawali dengan Yesus makan pagi bersama dengan para murid di tepi pantai danau Tiberias (danau Genezaret, danau Galilea, danau Kinerot). Setelah sarapan, Yesus mengajukan pertanyaan kepada Petrus. Pertanyaan pertama Tuhan Yesus kepada Petrus, ”Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini ?  Maka Simon menjawab Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau. Yesus bertanya sampai tiga kali, dan hal itu membuat Simon Petrus pun bersedih atau menangis.

 Percakapan pribadi (pastoral) Tuhan Yesus dengan Simon Petrus ini kalau kita baca dalam teks bahasa Indoneisa, maka kita tidak akan  melihat perbedaan pertanyaan demi pertanyaan yang Yesus ajukan kepada Simon Petrus tersebut, akan tetapi jika dalam teks asli Yunani, jauh lebih menarik.

Ayat 15 Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?”(Simon Iona, agapas me pleion toutōn). Kata “mengasihi”  yang diggunakan oleh Yesus adalah  kata “agapas”  dari kata “agapao” yang berarti kasih yang relah berkorban/kasih tanpa syarat. Dan kasih seperti itu hanya berasal dari Allah.  Jawab Petrus : “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau. (Nai kyrie sy oidas hoti filō se). Kata “mengasihi”  digunakan oleh Petrus, bukanlah kata “agapas”, melainkan  kata “filō” dari kata  “fileó” yang berarti “mengasihi” atau “menyayangi” dalam makna “persahabatan”. Lalu kata Yesus : “Gembalakanlah domba-domba-Ku. (Boske ta arnia mou)  Kata “boske”  berasal dari kata  “boskó” yang berarti memberi makan. Sedangkan kata “arnia” berasal dari kata “arnion” yang berarti “domba kecil”, “domba muda”, atau “anak domba”. (NIV: Feed my Lambs: beri makan anak-anak domba).

Ayat 16 Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi  Aku?”  (Simon Iona, agapas me“). Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” (Nai kyrie sy oidas hoti filō se). Pertanyaan kedua dari Tuhan Yesus kepada Petrus dan jawaban yang diberikan oleh Simon Petrus, masih tetap memakai kata-kata yang sama dengan pertanyaan dan jawaban pertama, di atas. Yang berubah adalah perintah Yesus perihal: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” (Poimaine ta probata mou: kata “poimane”   berasal dari kata poimainó, yang berarti “memelihara dan menjaga ternak” atau “menggembalakan”). Alkitab dalam terjemahan New International Version (NIV): Take care of my sheep: jaga/peduli/pelihara domba-domba-Ku (domba besar/dewasa)

Ayat 17 Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” (Simon Iona, fileis me)  Kali ini pertanyaan Yesus terhadap Petrus, tidak lagi menggunakan kata “agapas” (mengasihi), melainkan memakai kata “fileis.” Kata “fileis” berasal dari kata “fileo” (mengasihi dalam relasi persahabatan). Kata “fileis”  itu, juga tidak berbeda dengan jawaban yang dipakai Petrus, yaitu “filo”. Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” (Kyrie sy panta oidas sy ginōskeis hoti filō se). Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku” (Boske ta probata mou). Kata “boske” dan “probata” dapat diartikan “memberi makan kawanan domba”. (NIV: feed my Sheep: beri domba-domba (besar/dewasa) makan).

Memperhatikan kisah percakapan antara Tuhan Yesus dengan Simon Petrus, tidak terlihat  sama sekali bahwa  Tuhan Yesus secara sengaja mau mempermalukan Simon Petrus, karena pernah mengkhianati-Nya. Meskipun Simon Petrus terlihat sedih, karena Tuhan Yesus mengulang perrtanyaan yang sama sebanyak tiga (3) kali.  Ada penafsir dan pengkhotbah bersepakat bahwa tiga (3) kali pertanyaan Tuhan Yesus ini, seolah-olah mau mengingatkan (membalas ?) bahwa Simon Petrus pernah menyangkali-Nya sebanyak  tiga (3) kali juga.  Menurut penafsir lain, pertanyaan sebanyak tiga (3) kali dari Yesus kepada Simon Petrus ini mau menunjukan bahwa yang Yesus kehendaki dari Simon Petrus adalah kesungguhan hatinya, pikiran dan tindakannya adalah semata-mata untuk Tuhan.

Hal menarik yang dapat kita refleksikan adalah perubahan kata yang digunakan oleh Yesus, yakni dari  kata “agapas” berubah menjadi “fileis.” Seringkali kita mendengar ada penafsir atau pengkhotbah yang coba membedakan dua kualitas kata kasih ini.   Bahwa kasih yang diterjemahkan dari kata  agapas/agapao/agape adalah kasih yang tertinggi dibandingan dengan kasih dari kata fileis/filo/fileo. Sebab agapao/agape adalah kasih yang berasal dari Allah. 

Sebetulnya, Alkitab Perjanjian Baru, tidak seperti itu. Coba kita perhatikan perkataan Yesus berikut: “sebab Bapa sendiri mengasihi (philei) kamu, karena kamu telah mengasihi (pephilekate) Aku dan percaya, bahwa Aku datang dari Allah. (Yohanes 16:27). Itu berarti baik kata “agapas atau agape maupun fileis atau fileo, dipakai secara bergantian untuk menjelaskan kasih baik dari Allah kepada manusia, maupun sebaliknya, kasih manusia kepada Allah.

Sahabat Bukan Hamba

Perubahan kata dari  “agapas” ke “fileis” yang digunakan oleh Yesus dalam relasi dengan Simon Petrus, menarik untuk dikaji secara lebih mendalam. Pertama, dua kata tentang kasih (agapas dan fileis) ini sama-sama keluar dari mulut atau diperkatakan oleh Yesus sendiri. Itu berarti kedua kata ini, sama-sama memiliki kualitas atau kadar yang sama di hadapan Allah. Hal itu sudah disinggung di atas, di mana Yesus sendiri mengatakan dalam Injil Yohanes 16:27, “Bapa mengasihi (philei) kamu.”

Kedua, kalau toch, kualitas kata “agapas” dengan “fileis” itu berbeda (agapas lebih tinggi atau lebih mulia dari fileis), maka pertanyaannya, mengapa Yesus  pada akhirnya memilih untuk menggunakan kata yang sama yang dipakai oleh Simon Petrus ? Jawabannya, disinilah kehebatan dari Yesus. Ia tidak mempertahankan diri, agar Simon merubah kasihnya kepada Yesus; Artinya Yesus akhirnya menerima kasih dari Simon Petrus apa adanya, yakni kasih sebagai seorang sahabat.

Ketiga, Simon Petrus tidak mengubah kasihnya terhadap Yesus, dari kasih seorang sahabat (fileis) dengan kasih (agapas); oleh karena, Simon Petrus pasti ingat apa yang telah disampaikan oleh Yesus kepada para murid, yakni Yesus tidak memandang mereka (murid) sebagai seorang hamba, melainkan memandang mereka (murid) sebagai seorang sahabat. Sebagaimana kata Yesus, ”Aku tidak menyebut kamu lagi hamba (doulos), sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sabahat (philous), karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapaku.” (Yohanes 15:15).

Apakah Petrus tidak mampu mengasihi Tuhan dengan memakai kata agapas ? Mengapa Petrus mengasihi Tuhan-nya layaknya dia mengasihi seorang sahabat ?  Mungkin karena hal itulah, maka pertanyaan ketiga, Tuhan Yesus, tidak memakai kata ”agapas” tetapi memakai kata ”phileis.” Menarik bahwa dalam budaya paternalistik yang kuat, Yesus tampil dengan membawa suasana hati yang baru dalam  menjalin relasi dengan murid-murid-Nya, bukan dengan relasi tuan-hamba, tetapi relasi persahabatan. Kasih seorang sahabat yang meraih ke “bawah”. Ia yang adalah Tuhan, rela menjadi manusia hamba. Itulah inkarnasi! Dalam hal ini, Tuhan Yang Jauh telah mendekatkan diri-Nya kep

Pemimpin Adalah Sahabat

Seorang Teolog perempuan terkenal, Sallie McFague, dalam bukunya Models of God: Theology for an Ecological, Nuclear Age, mengungkapkan  bahwa metafor/gambaran  “God as Friend” kiranya  bisa merupakan paradigma bagi pengembangan teologi masa kini dan masa depan. Relasi persahabatan mengisyaratkan adanya kesetaraan dan kedekatan. Mengapa ? Hal itu telah dicetuskan oleh Yesus sendiri. Implikasi dari penghayatan dan kesadaran seperti itu, akan mendorong kita selaku orang percaya agar menjadi gereja yang terbuka dan gereja yang menjadi sahabat semua orang. Yesus dalam pelayanan-Nya, ia selalu dekat dengan orang-orang yang dipinggirkan oleh kekuasaan; ia bergaul dengan mereka yang sakit, mereka yang lapar, mereka yang dikucilkan dan mereka yang di hina.

Orang mengatakan bahwa tahun 2023-2024 adalah tahun politik, dimana rakyat akan mengambil bagian dalam pesta demokrasi, yakni memilih dan dipilih menjadi pemimpin di tingkat pusat hingga daerah-daerah (presiden/wapres, gubernur/wagub, bupati/wabup, dan pemilihan anggota DPR RI/DPRD, serta pemilihan anggota DPD). Tentu saja semua orang akan berlomba-lomba mau menjadi pemimpin, meskipun faktanya, akan lebih banyak orang yang berada di posisi sebagai yang dipimpin. Terkait dengan pemilihan para pemimpin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di republik yang kita cintai ini (selama ini), masih sangat sedikit mereka yang benar-benar menjadi sahabat dari rakyat. Yang terbanyak para pemimpin adalah penguasa yang menjadi sahabat dari pengusaha.

Bagaimana dengan pemimpin di gereja ? Selama ini, digaungkan bahwa kepemimpinan di gereja adalah kepemimpinan hamba. Terkait dengan hal ini, Joas Adiprasetya memberikan catatan kritis, model kepemimpinan yang Yesus kehendaki adalah kepemimpinan sahabat, bukan kepemimpinan pelayan (servant leadership). Kepemimpinan pelayan, justru dalam kenyataannya lebih banyak menghambat ketimbang merambat. Pola relasi yang terbangun antara pemimpin di sinode dengan pemimpin di wilayah atau jemaat adalah pola relasi tuan-hamba atau atasan-bawahan. Pemimpin di sinode adalah tuan atau bos yang harus dihormati oleh bawahan yang ada di wilayah dan jemaat-jemaat. Pola ini juga terjadi di jemaat-jemaat, dimana pendeta menempatkan diri lebih tinggi dari penatua dan diaken; penatua menempatkan diri lebih tinggi dari diaken; majelis jemaat memandang diri lebih tinggi dari koster, begitu seterusnya.

Pola relasi tuan-hamba atau atasan-bawahan ini juga terlihat dalam pola relasi keluarga, di mana kultur paternalistik begitu kuat mengekang kita. Sang suami memberlakukan isterinya sebagai pembantu rumah tangga, orang tua memandang anak-anak sebagai orang yang tidak tahu apa-apa, harus tunduk pada apa yang dikehendaki dan diputuskan oleh orang tua. Selama model kepemimpinan hamba atau pelayan ini, terus dipertahankan, maka selama itu pula kita akan diperhadapkan dengan pelbagai hambatan dan rintangan baik secara internal maupun secara eksternal. Gereja yang terus bertahan dengan model kepemimpinan hamba, hanya akan menghambat pertumbuhan gereja menjadi gereja yang sehat.

Salah satu misi GMIH periode 2022-2027 adalah ”Mewujudkan kasih dalam hidup bersama Allah, sesama dan alam semesta.”  Berdasarkan misi yang ada ini, GMIH sebagai gereja Tuhan, mau tidak mau, menempatkan kasih kepada Allah, kasih kepada sesama dan kasih kepada alam semesta, menjadi concern utama. Bahwa kasih kepada Allah harus terlihat dalam kasih terhadap sesama dan alam sekitar. Omong-kosong belaka, bila gereja berkoar-koar tentang kasih kepada Allah, dan mengabaikan kasih kepada sesama dan alam.  Kasih seperti apa ? Belajar dari Yesus yang berani merendahkan diri dan mau menjadi sahabat dari para murid, maka sudah seharusnya dan sepatutnya, GMIH harus menjadi sahabat Allah, sahabat dengan  sesama dan sahabat alam.

Seluruh warga GMIH, dan secara khusus kita yang mengaku dan memangku jabatan sebagai pelayan Tuhan (pendeta, penatua, diaken), harus memancarkan  wajah Yesus yang dalam rupa Allah  mau merendahkan diri-Nya dan menjadi sahabat dari murid-murid-Nya. Mari kita fileis Allah dalam Yesus Kristus Tuhan kita, dan fileis sesama kita dan fileis alam sekitar kita.

Penutup

Hidup dalam permusuhan dengan sesama, apalagi menjadi musuh dari Tuhan Allah, adalah hidup yang berada di luar kasih karunia. Panggilan hidup sebagai orang percaya adalah menjadi sahabat dengan Allah, dengan sesama dan dengan alam; sederhananya  panggilan  kita bukanlah membangun tembok-tembok atau pagar-pagar yang menjadi penghalang dan pertahanan bagi kita untuk berada dalam perjumpaan dengan Allah, sesama dan alam. Panggilan hidup kita adalah membangun  jembatan-jembatan, agar semua yang  jauh bisa didekatkan dan dilekatkan satu dengan yang lain. Persahabatan membangun jembatan, sedangkan permusuhan membangun tembok.

Postingan Terbaru