Program “Menyentuh yang Tidak Tersentuh” merupakan program regio Haltim yang disampaikan di SST Buho-Buho, November 2021. Persidangan saat itu kemudian menyambut dengan menjadikannya sebagai sebuah gerakan sinodal. Pada bulan yang sama setelah SST, sinode GMIH dengan dimotori Kaum Bapak Gereja bergerak cepat dengan penyaluran pakaian layak pakai kontribusi warga dari berbagai jemat yang kemudian disalurkan melalui jemaat setempat.
Setelah hampir setahun berjalan, bagaimana perkembangan program tersebut? Untuk menjawab hal tersebut, infokom menemui Wakil Ketua II BPHS GMIH, Pdt. Gustaf Tong-Tongo, S.Th, yang baru saja kembali dari trip pelayanan di regio Halmahera Timur.
Pendeta Gustaf menuturkan, bentuk relasi antara masyarakat Togutil dengan masyarakat dari luar komunitas mereka diwarnai kecurigaan. Sebagai masyarakat semi nomaden yang masih polos, mereka seringkali menjadi korban pembodohan yang berakibat perampasan hak ulayat baik oleh masyarakat lokal di sekitar mereka maupun oleh perusahaan-perusahaan besar yang masuk dan mengeruk kawasan hutan Halmahera Timur yang selama ini menjadi ruang hidup mereka.
Karena itu, untuk dapat mempertemukan masyarakat Togutil dengan iman kepada Yesus Kristus perlu dilakukan pendekatan dengan membangun relasa yang saling mempercayai. Peluang baiknya ialah, kita dapat menunjukkan bahwa kekristenan juga mengakomodasi nilai-nilai hidup yang selama ini mereka anut: kolektifitas dan hidup saling berbagi dalam kasih.
“Mereka sebenarnya orang-orang baik yang terbiasa dengan gaya hidup kolektif dan berbagi apa yang mereka punya. Tetapi dari pengalaman Saya di beberapa tempat di Halmahera, mereka diidentikkan dengan berbagai perilaku yang tidak baik. Itu bukan karena mereka mempunyai nilai-nilai yang buruk. Tetapi kita, masyarakat modern, yang mengajari dan mencontohkan hal-hal tersebut. Mereka melihat masyarakat dari luar komunitas mencuri dan merampas apa yang mereka punya. Mereka kemudian mengikuti hal-hal tersebut dalam interaksi mereka dengan dunia luar”, demikian jelas Pdt. Gustaf.
Dengan realitas yang demikian, bukan hal mudah untuk dapat menjalin relasi dengan masyarakat suku Togutil. Harus dimulai dengan menunjukkan kepada mereka bahwa kita membawa nilai-nilai yang baik dan membawa kebaikan bagi komunitas mereka.
Setelah setahun berjalan, program yang dilaksanakan mulai memperlihatkan hasil. Banyak dari masyarakat Togutil yang mulai bersedia mengikuti persekutuan ibadah minggu. Walau pun belum semuanya. Perlu upaya agar mereka bersedia dimukimkan sehingga lebih mudah dibina untuk hidup dalam persekutuan yang teratur. Dan dalam jangka panjang dapat merangkul kekristenan dan juga modernitas sebagai bagian dari pola hidup mereka.
“Gereja harus melayani. Termasuk bagi masyarakat Togutil. Pendekatan awal sudah menunjukkan hasil. Saya berharap ada follow up dari GMIH dengan membangun pemukiman bagi mereka. Gereja mungkin tidak punya cukup dana. Tapi gereja bisa menggandeng pemerintah dan pihak-pihak lain untuk terlibat. Dan saat ini Saya sedang membina komunikasi dengan beberapa orang dari Kemenag, dalam hal ini Bimas Kristen yang juga tertarik dengan program yang kami jalankan”, Pdt. Gustaf menutup percakapan. (edw)